Friday, May 27, 2016

Marhaban Yaa Ramadhan

Setelah Nifsu Syaban, maka Ramadhan akan datang... pintu Surga dibuka lebar-lebar... Beramal, melakukan semua kegiatan sangat ringan dan pahala berlipat ganda. Dan tentunya lebih mudah Ingat Selalu kepada ALLAH SWT

Bulan Ramadhan merupakan bulan untuk melaksanakan rukun iman yang ke-3 yaitu menjalankan puasa. Dengan menahan haus, lapar, dan hawa nafsu. Puasa wajib bagi seorang Muslim/Muslimah yang telah baligh atau dewasa. Allah SWT berfirman, "Katakanlah (wahai Muhammad SAW) Dengan Datang-nya Anugerah Allah Dan Rahmat-Nya, Maka Dengan Itu Hendaknya Mereka Bergembira" (QS Yunus 58)

Thursday, June 25, 2015

SHOLAT DHUHA DAN MANFAATNYA

Kali ini admin ingin mengajakan sholat sunnah yang bermanfaat sekali bagi muslim apalagi di bulan Ramadhan seperti sekarang ini. Mungkin banyak yang belum tahu bagaimana, apa dan semua tentang sholat Dhuha hmmm apa ya... oke .... berikut keterangan Sholat Dhuha dan manfaat bagi diri kita antara lain :

1. Olahraga Tanpa di Sadari
Penjelasannya sendiri adalah sholat dhuha dilakukan pada saat masih pagi hari yaitu sekitar pukul 07.00 (matahari sudah mulai meninggi) sampai dengan menjelang dhuhur, dan diwaktu tersebut merupakan waktu yang sangat baik untuk berolahraga, oleh karena itu melakukan sholat dhuha sama saja dengan berolahraga karena nantinya bisa dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan tulang serta otot karena setiap persendian bergerak, mulai dari tangan, siku sampai dengan lutut dan kaki. Manfaat gerakan sholat memang dapat memberikan efek olahraga tanpa di sadari.

2. Melancarkan peredaran darah
Sholat dhuha membantu untuk melancarkan peredaran darah yang ada di dalam tubuh manusia karena semua pergerakan dalam sholat dhuha sangat lengkap. Mulai dari mengangkat kedua tangan, membungkuk saat gerakan rukuk, kemudian juga gerakan sujud yang mana kepala berada lebih rendah dibandingkan badan dan darah tersebut juga mengalir ke kepala kemudian pada saat duduk aliran darah dinormalkan kembali.

3. Menormalkan Produksi Hormon
Selain itu juga sangat bermanfaat untuk menormalkan produksi hormon yang ada di dalam tubuh. Jadi sholat dhuha memang sangat bermanfaat dan efektif untuk menjaga kesehatan tubuh, baik untuk bagian tubuh, organ tubuh sampai dengan beberapa cairan dan juga hormone dalam tubuh.

Manfaat Sholat Dhuha untuk Rohani

Tuesday, June 16, 2015

MANFAAT SHOLAT BAGI TUBUH

Bagaimana agar terus ingat Allah... ya Dirikanlah sholat...... SHALAT sebenarnya bermanfaat bagi kesehatan tubuh baik jasmani maupun rohani. Shalat adalah santapan bagi jasmani dan akal secara bersamaan, memberikan kekuatan yang diperlukan muslim untuk melaksanakan berbagai pekerjaan, serta merupakan pencegahan dan pengobatan.

Diantara manfaat shalat bagi jasmani adalah :
1. MEMPERBAIKI FUNGSI JANTUNG.
2. MEMPERLEBAR PEMBULUH-PEMBULUH DARAH, SARAF DAN MEREFRESHING SEL-SEL.
3. MENGAKTIFKAN ALAT PENCERNAAN DAN MENGATASI SUSAH BUANG AIR BESAR.
4. MENINGKATKAN KEKEBALAN TUBUH TERHADAP BERBAGAI PENYAKIT DAN PERADANGAN PADA PERSENDIAN.
5. MENGHILANGKAN KETEGANGAN DAN PENGERINGAN PADA OTOT DAN PERSENDIAN, MEMPERKUAT JARINGAN DAN MENINGKATKAN KELENTURANNYA.
6. MEMBERIKAN KECEKATAN PADA TUBUH DAN FIKIRAN

Lainnya tambah banyak Nah lebih detil lagi sebagai berikut :

TAKBIRATUL IHRAM
Posisi: Badan berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah.
Manfaat: Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

Wednesday, June 4, 2014

Merasa Mampu

Hanya dalam hitungan tahun, tak sampai abad, Islam, sejak Rasulullah SAW sampai Khalifah Utsman bin Affan, menyebar dengan dasyatnya. Tak hanya ajaran tauhidnya, tapi juga wilayah kekuasaannya.

Seorang ilmuwan muslim pernah melakukan penelitian masalah ini, Prof. Hamidullah, dalam kitabnya yang berjudul 'al-Watha'iq as Siyahsiyya' melacaknya dengan sangat detil. Pada masa Rasulullah SAW, , daerah yang dikuasai Islam tak kurang dari 1 juta mil persegi. Sedangkan Khalifah Abu Bakar ra., menambah perluasan sekitar 200.000 mil persegi. Perluasan besar-besaran terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab yang menambah wilayah seluas 1.500.000 mil persegi. Sedangkan di masa Khalifah Utsman bin Affan ra., penambahannya sekitar 800.000 mil persegi

Sejarah mencatat, ketika kekuasaan justru begitu besar, Umar bin Khattab justru begitu takut. Bukan takut akan kehilangan kekuasaannya, tapi takut pada Allah SWT, yang kelak, pasti meminta pertanggung-jawaban setiap manusia. Suatu kali, Umar bin Khattab berkata pada dirinya sendiri, "Aku sungguh begitu takut. Tanah ini begitu luas, dan yang aku takutkan adalah pertanggung jawaban yang tak mampu aku berikan. Bagaimana jika seekor unta tersesat di wilayah ini, sampai ia kelaparan dan mati. Niscaya, Umar akan diminta jawaban di hari nanti", demikian Umar member arti tanggung jawab pada dirinya.

Umar bin Khattab telah memberikan pelajaran berharga pada sejarah. la, tak hanya 'merasa mampu', tapi juga mampu 'merasa'. Kadang banyak dari kita terlalu merasa mampu. Pada satu titik, tentu saja dorongan ini memberikan tenaga positif untuk menghasilkan sebuah karya, sebuah manfaat untuk umat. Tapi, pada banyak peristiwa, terlebih pada sejarah kekuasaan, merasa mampu telah membawa kehancuran yang demikian besar. Tak Hanya kehancuran untuk para pemimpin, tapi juga kehancuran untuk yang dipimpin.

Ketika merasa mampu telah mendorninasi, kepekaan dan kemampuan 'merasa' akan menjadi tumpul, tanggung jawab besar telah dihancurkan. Alih-alih manfaat, justru mudharat yang akan dihasilkan. Tiga kombinasi besar selalu dibutuhkan orang-orang besar. Kemampuan mendengar, kemampuan melihat jauh ke depan serta kemampuan untuk merasakan tanda tanda. Sebuah kepekaan, yang menjaga nurani tetap hidup dan selalu membisikkan kebaikan, juga kebenaran. Dan kita, wajib menjadikan ketiganya sebagai bekal.

Friday, May 30, 2014

RAHASIA AIR

Bila kita renungkan berpuluh ayat dalam Al-Qur'an yang berbicara tentang air, kita akan tersentak bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala rupanya selalu menarik perhatian kita kepada air. Air tidak sekedar benda mati, tapi menyimpan kekuatan, daya rekam, daya penyembuh, dan sifat-sitat ajaiblain.

DR Masaru Emoto Universitas Yokohama Jepang, pada Maret 2005 lalu telah melakukan sebuah penelitian. Hasilnya? Ternyata air bisa "mendengar" kata-kata, bisa "membaca" tulisan dan bisa "mengerti" pesan. Dalam bukunya, The Hidden Message in Water (Pesan tersembunyi di dalam Air), Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti magnetic atau compact disk.

Suatu peristiwa ganjil dan aneh pernah terjadi pada masa Amru bin Ash Radhtyallahu ‘anhu ketika menjadi Gubernur Mesir. Sungai Nil yang menjadi urat nadi kehidupan penduduk Mesir mulai surut. Airnya tidak melimpah-limpah seperti biasa. Peristiwa ini amat mencemaskan penduduk

Warga mengusulkan kepada Gubernur agar, melakukan ritual jahiliyah, yakni dengan mengorbankan anak gadis sebagai persembahan kepada Dewa Sungai Nil, agar air kembali ke sedia kala. Namun Amru keberatan, karena adat ini kurafat dan syirik. Gubernur meminta waktu dan mengirim surat kepada Khalifah dan Umar bin Khatthab. Ketika menerima surat balasan, betapa gembira Amru. Namun betapa terkejutnya, karena surat itu tidak ditujukan padanya, melainkan untuk Sungai Nil. Setelah membacanya Amru pun mencampakkan surat itu ke dalam sungai sebagaimana perintah Khalifah.

Dengan kekuasaan Allah, setelah surat itu jatuh ke dalam sungai Nil, dalam sekejap mata airnya mulai naik dan melimpah ruah. Kejadian aneh ini disaksikan sendiri oleh penduduk Mesir. Semenjak hari itu, iman mereka mulai teguh dan tidak mengamalkan adat jahiliyah.

Apa isi surat Khalifah Umar ?
“surat ini dikirimkan oleh Umar, Amirul-Mu’minin, kepada sungai Nil. Kalaulah air yang mengalir pada tubuhmu itu bukan dari kuasa Allah, maka kami tidak memerlukan engkau! Tetapi kami percaya Allah itu Maha Kuasa dan kepada-Nya lah kami bermohon supaya engkau mengalir seperti sedia kala.”

Menundukkan Mata dari Dunia

Tekad Malin Kundang sudah bulat. Dia ingin menggapai sukses gemilang di ibukota, Dari anak kampung yang miskin, dia ingin menjadi orang yang berlimpah kekayaan dunia. Tapi sayang, tekad itu membuatnya gelap mata. Dia melupakan temannya, menyingkirkan keluarganya dan tidak mengakui ibunya.

Malin memang sudah mabuk dunia. Dia mungkin tidak mendengarkan wasiat yang pernah disampaikan Yahya bin Mu'adz: "Dunia itu anaknya setan. Siapa yang mabuk karenanya, ia tidak akan sadar kecuali setelah berada di tengah kumpulan orang-orang mati, dalam keadaan menyesal di antara orang-orang yang rugi."

Keindahan dan kemegahan yang ditawarkan dunia memang menggoda. Tapi sesungguhnya keindahan itu tidak lebih baik dari sebuah fatamorgana yang kelak hilang bersama hembusan nafas terakhir manusia. Dia dicari tapi tidak pernah abadi. Dunia hanyalah perhiasan hidup yang dipenuhi dengan tipu daya, kelalaian dan permainan.

Tapi sekali lagi, siapa yang bisa menahan dirinya dari kelezatan harta, tahta dan birahi yang begitu menggoda? Jawabnya, tidak seorang pun bisa.

Materi duniawi memang kerap membuat insan takabbur (sombong) dan membusungkan dada. Kesombongannya ini tidak hanya menumpulkan indra sosialnya (satu indra penting agar orang ringan tangan membantu sesama) tapi juga menggiring hati ke arah kekufuran.

Gejala kejar-kejaran harta dengan beragam modus yang tidak lagi mengindahkan azas kebenaran apalagi kebaikan. Saat harga minyak mentah melonjak naik, segelintir pekerja minyak/BBM dan orang Indonesia lain menyelundupkan bahan bakar ini dengan cara-cara yang keji. Di saat harga sembako melangit para pengusaha lebih senang menimbunnya, berharap keuntungan yang berlimpah. Sungguh suatu upaya yang penuh tipu daya, kelalaian dan permainan.

Di era yang serba tidak menentu ini, tidak ada kebaikan yang bisa diraih dengan mudah. Ketika mengejar kebaikan dunia, manusia dihadang oleh kemegahan dan keindahannya sehingga orang kaya menjadi bakhil, orang pintar menjadi sesat dan orang berkuasa menjadi lalim.

Apalagi dengan kebaikan akhirat. Surga akhirat yang tidak pernah terbayang oleh akal itu, sering dianggap mimpi yang sia-sia. Orang-orang pun berusaha menghapus mimpi itu dari memori otaknya dan memfokuskan diri dalam meraih surga dunia.

Tuesday, February 11, 2014

Adaptasi

Salah satu kelebihan manusia dari makhluk Allah SWT lainnya selain akal adalah kemampuannya beradaptasi. Kemampuan ini membuat manusia mampu survive: Adaptasi bisa dilakukan dengan baik, justru karena kemampuan memahami lingkungan, karena kemampuan akalnya untuk menyelaraskan diri.

Hewan, betapapun besar tubuhnya tetap dibatasi oleh kemampuannya. Dinosaurus musnah karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungannya. Unta yang berjuluk "Bahtera padang pasir"., jika masuk 'kebun binatang di Indonesia harus disesuaikan alamnya. Demikian pula penguin dan hewan kutub lainnya.Kalau tidak beradaptasi , mereka akan segera punah..

Adaptasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), edisi kedua, terbitan Balai ,Pustaka, mempunyai arti "Penyesuaian terhadap lingkungan, pekerjaan dan pelajaran. Adaptasi kebudayaan berarti, "perubahan dalam unsur-unsur kebudayaan yang menyebabkan unsur-unsur itu dapat berfungsi lebih baik bagi manusia yang mendukungnya."

Sementara itu, adaptasi sosial berarti "Proses perubahan dan akibatnya pada seseorang dalam suatu kelompok social sehingga orang itu dapat hidup atau berfungsi lebih baik di lingkungannya.." Beradaptasi adalah menyesuaikan diri, dalam hal ini KKBI menulis kalimat contohnya; manusia adalah makhiuk yang paling mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.

Dengan kemampuannya, manusia membuat jaket, pakaian hangat, sepatu dan tongkat, sehingga mampu menaklukkan gunung es. Dengan kemampuan akalnya, manusia bisa menembus jauh ke dasar lauatan. Tapi coba lihat, hewan kutub yang dipindahkan ke kebun binatang, dari tahun ke tahun tetap saja harus disesuaikan alamnya. Dia sangat bergantung

Dengan iklim itu. Kemampuan memahami lingkungan memang menentukan survive tidaknya individu bersangkutan. Salah memetakan, bisa tersesat. Apa jadinya jika ada orang yang mengira hidup di kutub, Padahal dia berada di gurun?" .