Thursday, June 13, 2013

PENYAKIT MANUSIA

Suatu sore, seorang pria berdiri termenung di depan klinik. Dalam pikirannya masih terngiang ucapan seorang dokter beberapa saat lalu. Sang dokter mengatakan, dalam tubuhnya terdapat bakteri yang bisa berkembang jika tidak diobati. la perlu disembuhkan dalam waktu cukup lama itupun, kata dokter, bila ia rajin minum obat dan bergaya hidup sehat.

la menyesal. Tapi, itu tak berarti. Hingga suatu hari, ia berterau dengan seorang teman dan berkata, Kamu harus berterima kasih pada penyakit. Sebab kamu bisa hidup lebih bermakna lagi. "Kontan saja pemyataan itu ia bantah. Bagaimana mungkin, pikirnya, sebuah penyakit bisa memberi makna lebih bagi dirinya. justru dengan penyakit itu ia peroleh. Tak leluasa bergerak, perlu kontrol ke dokter secara rutin dan membeli obat hingga ratusan ribu rupiah setiap bulannya.



Lantas, kata temannya,"Kenapa kamu harus merasa terjatuh dan terkalahkan oleh penyakit? Justru banyak manfaat dan hikmah yang bisa kamu peroleh dari penyakit." Diskusi kecil itu pun berakhir. Namun, entah kenapa, pada suatu malam, ia justru teringat kembali ucapan temannya itu. Padahal, ia sudah terlanjur membuang nasehat itu jauh-jauh dan menganggapnya sekedar bualan belaka. Li kemudian mcngingatnya kembali, Apa sebenarnya makna di balik sakit yang is derita? Semenjak beberapa tahun lain, seorang dokter menyuruhnya berhenti merokok. Sampai kini, ia sudah tidak merokok lagi. Padahal, sejak SMA, ia sudah tergolong pecandu rokok berat. Kurang lebih tujuh tahun ia menjadi pecandu, satu hari bisa menghabiskan lebih dari satu bungkus rokok.

Jika dihitung secara materi, satu hari ia bisa menghabiskan uang minimal 10.000,- rupiah. Bila itu dikali tiga tahun saja atau 1095 hari, maka bisa mencapai 10.950.000,- rupiah. Nah, angka ini tentu tak sedikit. Selama tiga tahun tak terasa ia telah menahan pengeluaran uang sebanyak itu. Hal ini ternyata, tanpa ia sadari sebelumnya.

Dulu, ia sangat gemar begadang. Hampir setiap malam ia begadang, terlebih sejak ia menjadi aktivis kampus. Kewajiban sebagai mahasiswa akhir banyak terbengkalai, temasuk skripsi. Namun, sejak jatuh sakit, ia akhirnya bisa menyelesaikan tugas skripsinya.

Bila tidak sakit, mungkin saja, skripsi belum tentu bisa ia selesaikan. Setelah studi Sl-nya selesai, ia justru melanjutkan studi ke jenjang berikutnya. Sebenarnya masih banyak lagi kisah kenikmatan di balik sakit yang ia derita. Ia kini bisa menghargai waktu, makan teratur, tidak begadang, bisa mengontrol emosi, dan berpikiran positif. Bila dibeber saaatu persatu, mungkin nikmat itu akan sulit dihitung. Sebab, firman Allah, manusia tidak akan sanggup menghitung kenikmatan yang diberikan-Nya. (QS. Ibrahim:34). Ia kini sadar bahwa sakit adalah kenikmatan. Sakit itu bukan musibah, tapi anugerah.

No comments: